Teknik probing menjadi salah satu keterampilan penting yang perlu dikuasai interviewer ketika melakukan Behavioral Event Interview (BEI). Metode wawancara ini tidak hanya menilai apa yang pernah dilakukan kandidat, tetapi juga menggali bagaimana kandidat menghadapi situasi tertentu, tindakan yang diambil, serta hasil yang dicapai.
Dalam prosesnya, kandidat terkadang memberikan jawaban yang terlalu umum, singkat, atau belum menunjukkan perilaku secara spesifik. Interviewer perlu mengajukan pertanyaan lanjutan untuk mendapatkan informasi yang lebih mendalam. Di sinilah teknik probing berperan penting.
Lantas, seperti apa teknik probing tersebut? Simak penjelasannya di bawah ini!
Apa Itu Behavioral Event Interview?
Behavioral Event Interview merupakan metode wawancara yang menggunakan pengalaman nyata kandidat di masa lalu sebagai dasar untuk memprediksi perilaku dan kinerja kandidat dalam situasi pekerjaan tertentu.
BEI berangkat dari prinsip bahwa perilaku yang pernah ditunjukkan seseorang dapat memberikan gambaran mengenai cara orang tersebut menghadapi situasi serupa pada masa mendatang. Karena itu, interviewer tidak cukup bertanya mengenai pendapat atau pengetahuan kandidat.
Interviewer perlu mengetahui pengalaman nyata kandidat, termasuk kondisi yang dihadapi, tindakan yang dilakukan, alasan di balik tindakan tersebut, dan hasil akhirnya.Pertanyaan BEI tersebut mendorong kandidat memberikan contoh perilaku nyata sehingga interviewer dapat menilai kompetensi berdasarkan bukti pengalaman.
Contohnya, daripada bertanya, “Apakah Anda mampu bekerja dalam tim?”, interviewer dapat bertanya, “Ceritakan pengalaman ketika Anda menghadapi konflik dengan anggota tim.”
Mengapa Teknik Probing Penting dalam BEI?
Dalam Behavioral Event Interview, kualitas informasi sangat menentukan ketepatan penilaian interviewer. Jawaban kandidat yang terlalu umum dapat menyulitkan interviewer dalam mengidentifikasi kompetensi yang sebenarnya.
Mengutip dari Indeed, Teknik probing membantu interviewer memperdalam jawaban kandidat tanpa mengarahkan kandidat pada jawaban tertentu. Interviewer dapat menggali detail mengenai situasi, tindakan, pemikiran, dan hasil dari pengalaman yang diceritakan.
Penggalian tersebut juga membantu interviewer membedakan antara pengalaman pribadi kandidat dengan pengalaman yang dilakukan oleh tim. Hal ini penting karena BEI berfokus pada perilaku individu.
Misalnya, kandidat mengatakan, “Kami berhasil menyelesaikan proyek tepat waktu.” Jawaban tersebut belum menjelaskan kontribusi kandidat secara spesifik. Interviewer dapat menggali lebih jauh dengan bertanya, “Apa peran Anda dalam memastikan proyek tersebut selesai tepat waktu?” Dengan cara tersebut, interviewer memperoleh informasi yang lebih objektif untuk menilai kompetensi kandidat.
Bagaimana Cara Melakukan Teknik Probing?
Interviewer perlu melakukan probing secara sistematis agar wawancara tetap terarah. Berikut beberapa langkah yang dapat digunakan:
1. Dengarkan Jawaban Kandidat Secara Aktif
Langkah pertama adalah mendengarkan jawaban kandidat dengan cermat. Interviewer perlu memperhatikan informasi yang sudah diberikan dan menemukan bagian yang masih belum jelas.
Jangan langsung mengajukan pertanyaan lanjutan tanpa memahami jawaban sebelumnya. Catat poin penting seperti situasi, peran kandidat, tindakan, alasan pengambilan keputusan, dan hasil.
Interviewer juga perlu menghindari interupsi ketika kandidat sedang menjelaskan pengalaman. Setelah kandidat menyelesaikan penjelasan, interviewer dapat menentukan bagian mana yang perlu digali lebih dalam.
2. Gali Situasi yang Dihadapi
Setelah kandidat memberikan contoh pengalaman, interviewer dapat menggali konteks situasinya. Tujuannya adalah memahami kondisi yang benar-benar dihadapi kandidat. Beberapa pertanyaan yang dapat digunakan antara lain:
- “Kapan kejadian tersebut terjadi?”
- “Apa kondisi yang Anda hadapi saat itu?”
- “Siapa saja yang terlibat?”
- “Apa tantangan utama dalam situasi tersebut?”
- “Mengapa situasi tersebut menjadi masalah?”
3. Fokus pada Tindakan Kandidat
Bagian terpenting dalam BEI terletak pada tindakan kandidat. Interviewer perlu memastikan bahwa kandidat menjelaskan apa yang benar-benar ia lakukan, bukan hanya apa yang dilakukan oleh tim. Gunakan pertanyaan seperti:
- “Apa yang Anda lakukan saat itu?”
- “Bagaimana Anda menangani masalah tersebut?”
- “Apa langkah pertama yang Anda ambil?”
- “Mengapa Anda memilih tindakan tersebut?”
- “Apa pertimbangan Anda sebelum mengambil keputusan?”
4. Gali Pemikiran dan Pertimbangan Kandidat
Perilaku tidak hanya terlihat dari tindakan. Cara kandidat berpikir ketika menghadapi masalah juga dapat memberikan informasi penting mengenai kompetensinya.
Interviewer dapat bertanya, “Apa yang Anda pikirkan ketika menghadapi situasi tersebut?” atau “Apa yang menjadi pertimbangan Anda sebelum mengambil keputusan?”
Pertanyaan ini membantu menggali alasan di balik tindakan kandidat. Interviewer kemudian dapat melihat apakah kandidat memiliki pola berpikir yang sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan oleh posisi tersebut.
5. Tanyakan Hasil yang Dicapai
Setelah mengetahui tindakan kandidat, interviewer perlu menggali hasil dari tindakan tersebut. Hasil memberikan gambaran mengenai efektivitas perilaku kandidat. Beberapa pertanyaan yang dapat digunakan adalah:
- “Apa hasil dari tindakan tersebut?”
- “Bagaimana respons pihak lain?”
- “Apakah target berhasil tercapai?”
- “Apa dampaknya terhadap pekerjaan atau tim?”
- “Apa yang Anda pelajari dari pengalaman tersebut?”
Jika memungkinkan, interviewer dapat meminta data atau indikator yang lebih konkret. Misalnya, daripada menerima jawaban “hasilnya cukup baik”, interviewer dapat bertanya, “Seberapa besar peningkatan yang berhasil dicapai?”
Contoh Teknik Probing dalam Behavioral Event Interview
Sebagai contoh, interviewer meminta kandidat menceritakan pengalaman ketika menyelesaikan konflik dalam tim.
Kandidat menjawab, “Saya pernah menghadapi konflik dengan rekan kerja. Kemudian kami berdiskusi dan akhirnya masalah tersebut selesai.”
Jawaban tersebut masih terlalu umum. Interviewer dapat melakukan teknik probing dengan mengajukan pertanyaan lanjutan.
“Bisa diceritakan lebih spesifik konflik yang terjadi?”
Kandidat kemudian menjelaskan situasinya. Interviewer dapat melanjutkan dengan pertanyaan, “Apa yang Anda lakukan ketika mengetahui konflik tersebut?”
Setelah kandidat menjelaskan tindakannya, interviewer dapat bertanya, “Mengapa Anda memilih pendekatan tersebut?” Kemudian interviewer dapat menggali hasil dengan pertanyaan, “Apa yang terjadi setelah Anda melakukan tindakan tersebut?”
Rangkaian pertanyaan tersebut menghasilkan informasi yang jauh lebih lengkap dibandingkan jawaban awal kandidat.
Kesalahan yang Perlu Dihindari Saat Melakukan Probing
Meskipun probing membantu menggali informasi, interviewer tetap perlu menjaga objektivitas selama wawancara. Hal tersebut dapat dilakukan dengan beberapa cara berikut:
- Pertama, hindari pertanyaan yang mengarahkan kandidat pada jawaban tertentu. Pertanyaan seperti “Anda pasti menyelesaikan masalah tersebut dengan baik, bukan?” dapat memengaruhi jawaban kandidat.
- Kedua, jangan terlalu cepat menyimpulkan jawaban. Interviewer perlu mengumpulkan bukti perilaku terlebih dahulu sebelum memberikan penilaian.
- Ketiga, hindari menggali informasi yang tidak relevan dengan kompetensi atau posisi yang dinilai. Probing harus tetap memiliki tujuan agar wawancara berjalan efektif.
- Keempat, jangan hanya berfokus pada hasil. Interviewer perlu memahami proses yang dilakukan kandidat karena kompetensi terutama terlihat melalui perilaku dan tindakan yang dilakukan.
Tips Agar Probing Lebih Efektif
Probing tidakhanya sekedar memberikan pertanyaan lanjutan, namun bagaimana pertanyaan tersebut dapat menggali informasi yang lebih dalam yang dibutuhkan oleh interviewer. Agar wawancara menghasilkan informasi yang berkualitas, interviewer dapat menggunakan beberapa strategi:
- Pertama, siapkan kompetensi dan indikator perilaku yang akan dinilai sebelum wawancara dimulai.
- Kedua, gunakan pertanyaan terbuka yang mendorong kandidat memberikan cerita. Ketiga, gunakan pertanyaan lanjutan berdasarkan jawaban kandidat, bukan sekadar mengikuti daftar pertanyaan secara kaku.
- Keempat, berikan waktu kepada kandidat untuk mengingat pengalaman. Jangan terburu-buru mengisi jeda dengan pertanyaan baru.
- Terakhir, gunakan teknik probing secara konsisten kepada seluruh kandidat. Konsistensi membantu interviewer membandingkan bukti perilaku secara lebih objektif dan mengurangi bias dalam proses seleksi.
Teknik probing merupakan bagian penting dalam Behavioral Event Interview karena membantu interviewer memperoleh informasi yang lebih spesifik mengenai pengalaman dan perilaku kandidat.
Dengan menerapkan probing secara sistematis, interviewer tidak hanya memperoleh jawaban yang bersifat normatif, tetapi juga bukti perilaku yang dapat digunakan untuk menilai kompetensi kandidat. Keterampilan ini menjadi semakin penting bagi HR, recruiter, maupun interviewer yang ingin meningkatkan kualitas proses seleksi berbasis kompetensi.
Intensive HR Training, Belajar HR Bareng Profesional!
Untuk mengoptimalkan pengelolaan HR di perusahaan perlu memiliki talent-talent HR yang profesional. Oleh karena itu, untuk menjadi HR yang next level dan memiliki pemahaman yang menyeluruh seputar HR, yuk belajar HR hanya di Kelas HR. Dengan 50++ kelas yang bisa diikuti, kamu bisa belajar HR dari A-Z dan bergabung dengan grup profesional HR dari seluruh Indonesia. Ada kelas gratis juga tiap bulan, lho !
Jadi, tunggu apa lagi?
Kelas HR
Grow Together

